Kamis, 09 Februari 2012

Inkulturasi Rumah Adat Bergonjong Minangkabau ke dalam Arsitektur Kubah Mesjid di Sumatera Barat

Dari beberapa gambar di bawah ini dapat kita saksikan proses inkulturasi budaya kuno Minangkabau ke dalam arsitektur masjid. Saat ini sudah langka karena sebagian besar kubah mesjid sudah mengadopsi gaya arsitektur Timur Tengah.


Seabad yang lalu, di satu nagari kecil di pinggang Gunung Merapi. Di lintas Jalan Batusangkar-Bukittinggi. Di saat jalan lintas itu belum beraspal mulus seperti sekarang. Nagari di Ranah Minang masih gelap gulita. Belum ada aliran listrik. Saat itulah, tepatnya tahun 1908, para tetua/ sesepuh atau di Ranah Minang disebut dengan tungku tigo sajarangan (kaum ulama, ninik mamak/para penghulu, cerdik pandai) Orang Rao-Rao, meran-cang satu masjid yang indah di pandang mata. Tidak sekadar baik menurut ilmu arsitek seperti yang berkembang sekarang. Melainkan juga dijiwai oleh semangat mengamalkan Islam secara kaffah, yang sejalan dengan menerapkan adat Minangkabau yang terkenal : Adat Ba-sandi Syara’ dan Syara’ Basandi Kitabullah (adat bersendi pada Agama, Agama bersendi pada Alquran). Apa yang harus dianut dalam adat, harus sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Semangat seperti itulah yang terkandung dalam masyarakat Rao-Rao masa dulu. Semua itu terwujud dalam bangunan Masjid Raya Rao-Rao yang hingga kini kokoh berdiri dengan ciri khas menara masjid yang bergonjong, perpaduan antara rumah gadang (rumah adat Minang) dan gonjong bak menara Masjid Masjidil Haram.


Harus diakui pula, pada masa itu tokoh muda dari Rao-Rao sudah ada yang belajar ke Mekkah. Setelah pulang mereka menjadi juru da’wah. Tidak hanya dikenal di sekitar wilayah Batusangkar, melain-kan juga berda’wah ke berbagai nagari di Sumatera Barat.

Sampai masa perang gerilya kemerdekaan dan “peri-peri” istilah Orang Rao-Rao untuk peristiwa PRRI (Pemerintahan Revolusioner RI), kitab berbagai bidang studi ilmu agama yang sebagian berbahasa arab, dipelajari dan disimpan di Masjid itu. Dengan demikian pembangunan sumber daya manusia berbasis Islam dan adat Minang, berjalan seiring dengan pembangunan fisik berupa Masjid Rao-Rao ini.

Bagaimanakah Masjid megah itu dibangun? Menarik untuk diungkap tentang berbagai keunggulan Orang Rao-Rao kala itu, untuk mengonsep dan mewujudkan bangunan melebihi zamannya.
Menurut cerita para tetua di Rao-Rao, sejak awal berdiri seabad lalu lantai masjid Rao-Rao tersusun dari keramik berkualitas tinggi. Tak tanggung-tang-gung, semua itu dipesan langsung dari negeri Tirai Bambu, China. Selalu halus dan mengkilat walau dipakai sampai 50 lebih.

Berhubung Rao-Rao merupakan nagari di pegunungan yang tak bisa diakses dari laut, dan angkutan darat seperti truk tidak tersedia, keramik itu harus dibongkar dari Pelabuhan Teluk Bayur Padang. Lalu dibawa dengan kereta api, dan kemudian digotong dengan kuda berjalan pelan dari Bukit Tinggi ke Rao-Rao. Itulah sebabnya, sekitar tahun 1990-an, saat terjadi renovasi dan lantai kemarik itu diganti dengan yang baru, sebagian Ibu-Ibu terutama berusia lanjut, yang mengetahui sejarah di atas, meneteskan air mata. Pasalnya, mereka mengetahui sejarah para orang tua Rao-Rao dulu berjuang dengan cara yang tidak mudah.


Adanya masjid yang terhitung sebagai bangunan super mewah di kala itu, dipergunakan multi fungsi oleh masyarakat, masjid bukan saja sebagai pusat beribadah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pendidikan yang memberi motifasi untuk kemajuan nak nagari, dan tidak kalah pentingnya Masjid juga digunakan sebagai kegiatan sosial lainnya, terutama waktu itu sebagai pusat penyusunan strategi perjuangan menghadapi penjajah kolonial, oleh para pejuang orang Rao-Rao, salah seorang dari pejuang itu Pakiah Sholeh ( Bapak Bupati Kab. Tanah Datar sekarang ) yang dibuang ke Digul/Tanah Merah Papua oleh Belanda). Masjid sebagai sentra pendidikan waktu itu, memacu semangat belajar Orang Rao-Rao. Semangat belajar itu terbukti dengan ramainya sekolah Darul Huda atau sehari-hari disingkat “sekolah DH,” yang terletak disisi kiri masjid. Setelah tamat sekolah DH, kala itu putra-putri dari Rao-Rao melanjutkan ke SMA atau Madrasah Aliyah, atau mengaji ke Surau- Surau yang terkenal di Ranah Minang untuk menuntut memperdalam ilmu agama. Dengan demikian pendidikan Rao-Rao mengalami kejayaan dibanding nagari lain, yakni masa pergolakan PRRI. Kala itu sejumlah pelajar pulang kampung karena sekolah mereka tutup di beberapa daerah. Atas inisiatif beberapa orang terpelajar dan Mahasiswa Rao-Rao, berdirilah sekolah darurat dengan guru-guru dari pemuda Rao-Rao sendiri. Nasib mujur, sekolah itupun diakui. Dan sebagai hasilnya pelajar dari nagari ini tidak mengalami putus sekolah, atau kehilang masa belajar setahun, karena pergolakan tersebut.

Adanya masjid yang bagus, kaum muda yang terpelajar, dilengkapi pula dengan minat pemuda untuk menjadi pedagang/ saudagar. Akibatnya, Rao-Rao tumbuh sebagai nagari dengan SDM yang berdaya saing baik. Bahkan dengan merantau dan berdagang, daerah ini kuat secara ekono-mi. Sejak dulu terkenal orang-orang Rao-Rao pulang kampung saat lebaran Idul Fitri, memperlihatkan kesuksesan peda-gang maupun kaum terpelajar. Dengan demikian, maka dapatlah dipa-hami bahwa kegotong-royongan Orang Rao-Rao sangat kuat. Termasuk dalam membangun masjid Rao-Rao itu sendiri. Saat awal mula pembangunannya, menu-rut cerita orang tua-tua, ada seorang perantau yang bersedia membiayai sendiri secara penuh. Perantau itu menetap di Kuala Lumpur, dan kalaupun tak kong-lomerat setara kini, setidaknya pedagang besar, bila sebutan masa sekarang. Tapi niat itu ditolak secara halus oleh Wali Nagari Rao-Rao kala itu. Alasannya sederhana saja, bila masjid yang menjadi kebanggaan Nagari dibangun oleh satu orang atau kelompok keluarga atau suku tertentu, akan mendatangkan perpecahan di kemudian hari. Pemikiran bijaksana itu, ternyata terbukti manjur sekarang. Masjid itu tetap menjadi kebanggaan bersama Orang Rao-Rao dimana pun di seluruh dunia. Pasalnya setiap individu dari berbagai lapisan dan suku di Rao-Rao ikut serta meneteskan keringat dan sumbangan materilnya untuk masjid tersebut.
Tidak heran bila beberapa kali direnovasi, bantuan dari perantau sangat besar dari berbagai kota di seluruh tanah air dan luar negeri. Dapatlah dibayangkan bahwa dulu masjid Rao-Rao beratap ijuk, dan
ornamen yang sesuai dengan masanya. Kini beratap seng dan beberapa kali berobah baik cat maupun bangunannya.

Bupati Tanah Datar, Shodiq Pasadigoe, dalam pidato peringatan 100 tahun Masjid Raya Rao-Rao, waktu pulang Basamo Lebaran, bulan Oktober 2008, menga-takan ada tiga masjid yang mirip dengan Masjid Rao-Rao di seluruh Sumbar. Dua masjid lainnya dibangun karena per-mintaan dibuatkan masjid seindah masjid ini. Lalu dibawalah mantan tukang kala itu, untuk membangun masjid yang sama di nagari tersebut. Jadi dari sisi arsitek, ini adalah masjid karya asli Orang Rao-Rao, bukan tukang yang “diimpor” dari nagari lain atau luar negeri.

Oleh sebab itu, bila anda mengunjungi Sumbar dan sempatkan melintasi Kota Batusangkar baik ke arah Bukittinggi maupun Payakumbuh, sangat tepat memilih berhenti di Rao-Rao. Selain tempat sholat dan melepas penat diper-jalanan, dalam tahun-tahun mendatang, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar juga berencana membangun rumah musyafir, atau sejenis rumah singgah.
Jadi selain bisa sholat dan menikmat alam yang sejuk, bisa pula menginap di dekat masjid ini. Kedepan perjalanan wisata rohani cocok untuk diarahkan ke Nagari Rao-Rao ini. Selain itu perlu pula me-ningkatkan program pengkaderan ulama di Rao-Rao, sebagaimana kejayaannya dulu. Semoga.


Bulan April 2012, saya lihat masjid pada gambar di sebelah kiri, sungguh hancur kondisinya. Tiadakah upaya masyarakat dan Pemda Sumbar untuk merawat dan menjadikannya cagar budaya?


Sumber foto: lihat pada foto
                     www2.kemenag.go.id

0 comments:

Poskan Komentar