Mentawai Island Surfing

The Mentawai Islands of Indonesia are one of the most consistent surfing travel destinations in the world (photo: mentawaiislands.com)

Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi is one of West Sumatra famous destination landmark (photo:tourdesingkarak.com)

Beautiful Lake Singkarak

Visit the clear and cool water of Lake Singkarak (photo:faceofindonesia.com)

44 Winding Road of Maninjau

Beatiful scenery of 44 Winding Road (Kelok 44) that leads to Maninjau Lake (photo: tourdesingkarak.com)

Minangkabau Traditional Martial Arts

One of famous Harimau Campa style of Minangkabau traditional martial arts (photo:faceofindonesia.com)

Tampilkan postingan dengan label Area Singkarak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Area Singkarak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

LIMAU KACANG, JERUK EKSOTIS DARI SINGKARAK YANG NYARIS PUNAH NAMUN MUNCUL KEMBALI

Warung-warung yang berada di sekitar muara sungai Ombilin tepi Danau Singkarak itu masih seperti puluhan tahun yang lalu, ketika Bus Danau Raya yang kami tumpangi singgah dan kemudian bus kami seperti makanan yang dikerubungi semut-semut penjaja makanan. Dulu, dari sekian banyak barang yang ditawarkan, hanya satu yang pasti kami beli, yaitu Limau Kacang. Ketika berkunjung ke sana lagi minggu lalu dalam perjalanan kami dari Batusangka menuju Padang...tidak kami dapati lagi jeruk manis dan harum tersebut. Kesedihan kami seperti pohon yang tumbang sampai akar-akarnya.

Namun, nasib baik mengantarkan kami kepada Limau Kacang tersebut. Pada perjalanan hari berikutnya, selesai makan di Rumah Makan Aie Badarun, sekitar 5 KM menjelang Bukittinggi dari Padang, mata saya tertumbuk kepada jeruk berwarna hijau legam tersebut karena hanya ada beberapa jeruk lokal yang warnanya hijau seperti jeruk pontianak. Namun rasanya tak mungkin jeruk pontianak sampai ke sini. Kegembiraan saya seperti daun-daun dan tetes embun pagi.... Ini Limau Kacang...!!!

Sekilo Limau Kacang ini dijual Rp.25,000. Saking senangnya, jadi seperti ibu lupa anak dalam gendongan, langsung beli dua kilo tanpa tawar menawar lagi. Kata yang jual, limau kacang ini dari Sumpu - Singkarak. 
Tak menunggu lama, segera saya kupas kulitnya yang segar..... rasanya masih seperti puluhan tahun yang lalu....manis bercampur asam dengan aroma yang harum dan segar seakan buah yang telah disemprotkan dengan wewangi sitrus berlapis-lapis. Airnya banyak dan dinding buahnya tipis sehingga di lidah rasanya sangat sensasional. Seperti perpaduan jeruk pontianak dan jeruk mendarin.....segar dan enak sekali...

Limau Kacang (citrus nobilis) sempat menjadi jeruk primadona di Sumatera. Bahkan karena permintaan yang sangat tinggi dan produksi yang sedikit, jeruk ini tidak bisa beranjak jauh dari Sumatera Barat dan propinsi sekitar.

Jeruk ini disebut Limau Kacang, karena produsen terbesarnya berada di Nagari Kacang, Kecamatan X Koto Singkarak. Jeruk ini hilang timbul sampai beberapa kali karena penyakit. Tahun 2000 jeruk ini sudah sangat jarang terlihat dijajakan orang, atau mungkin sudah punah.

Limau Kacang ini sangat pantas menjadi komoditi unggulan Sumatera Barat. Namun sangat disayangkan belum pernah terdengar ada upaya dari Pemerintah Daerah setempat untuk "membangkitkan kembali batang tarandam" tersebut.







Sabtu, 14 Januari 2012

Misteri Terowongan antara Danau Singkarak dan Danau Maninjau

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com

Keberadaan terowongan antara Danau Singkarak dan Danau Maninjau dari dahulu sampai sekarang sudah menjadi cerita turun-temurun di kalangan penduduk Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Sampai saat ini belum ada pembuktian ilmiah terhadap cerita tersebut.

Penulis sendiri mendapatkan cerita mengenai keberadaan terowongan tersebut dari nenek yang biasa kami panggil Uwak. Karena seringnya cerita tersebut disampaikan kepada kami, cerita tersebut sampai merasuk ke alam pikiran bawah sadar dan terbawa sampai ke alam mimpi. 

Saat penulis berenang dan kawan-kawan berenang di tepi Danau Singkarak yang airnya tenang dan jernih, tiba-tiba muncul suatu pusaran air yang menyedot kami dengan kuat. Kami berusaha untuk berenang ke tepian, namun pusaran air tersebut lebih kuat sehingga kami tidak kuasa menahan sedotannya. Tak lama kemudian kami pun merasa memasuki suatu terowongan air seperti gua-gua atau sungai bawah tanah, namun  kami tidak bisa bernafas sama sekali karena semua terowongan diliputi air. Napas kami sangat sesak....Tiba-tiba kami menyembul kembali ke permukaan danau dan mengamati sekeliling. Ternyata kami sudah tidak berada di Danau Singkarak lagi. Entah di mana kami berada...bagaimana caranya untuk pulang ke rumah...bagaimana nasib...kami. Kami pun semua menangis sekeras-kerasnya dan kemudian ....terbangun dari mimpi!

Keberadaan terowongan ini masih menjadi misteri sampai sekarang terutama karena belum ada pembuktian secara ilmiah. Namun demikian tetap ada kemungkinan bahwa terowongan tersebut memang ada. Alasan yang pertama adalah karena cerita  mengenai keberadaan terowongan tersebut sepertinya bukan cerita dongeng atau kaba yang biasanya ada maksud untuk pendidikan budi pekerti di dalamnya seperti cerita Malin Kundang anak durhaka, Legenda Batu Menangis, Legenda Bujang Sambilan dan lain-lain. Cerita mengenai keberadaan terowongan tersebut hanya diceritakan bahwa ada terowongan antara Danau Singkarak dan Danau Maninjau tanpa ada cerita lain yang mengiringinya. Jadi menurut dugaan penulis, kemungkinan di masa lalu memang ada orang yang tersedot masuk ke terowongan di Danau Singkarak tersebut dan kemudian muncul di Danau Maninjau. Atau orang tersebut memang tersedot oleh pusaran air dan kemudian muncul di bagian lain di Danau Singkarak dengan selamat. Supaya dianggap hebat atau sakti maka ada kemungkinan orang tersebut melebih-lebihkan cerita untuk mendramatisir suasana seperti yang biasanya dilakukan tukang kaba (pencerita).

Jika kita hubungkan cerita terowongan Singkarak-Maninjau dengan cerita terowongan Keraton Jogjakarta - Laut Selatan, maka mungkin keduanya memiliki korelasi secara mistis.

Kemudian jika kita hubungkan keberadaan Prasasti Tangga Batu Basurek di Sumpur Kudus yang tenggelam ke dasar Danau Singkarak dan adanya pusaran air di sekitarnya, ada kemungkinan maka pintu masuk terowongan tersebut dari Tangga Batu Basurek tersebut.

Secara logika ilmiah, maka keberadaan terowongan, atau sungai bawah tanah tersebut dimungkinkan. Contoh paling nyata adalah keberadaan sungai-sungai bawah tanah yang terdapat di Gunung Kidul Yogyakarta. Gunung Kidul merupakan daerah yang tandus dan sulit untuk ditanami tanaman produksi karena tanahnya berkarang-karang yang merupakan dasar laut yang terangkat ke daratan  jutaan tahun yang lalu. Namun meskipun tandus, dibawah bukit-bukitnya terdapat sungai-sungai bawah tanah yang mengalirkan air ke Laut Selatan. Salah satu sungai tersebut kemudian dimanfaatkan untuk sumber air minum.

Fakta lain yang mendukung adalah bahwa ada kemungkinan terowongan tersebut terbentuk karena proses tektonik pada Patahan Semangko karena Danau Singkarak dan Danau Maninjau berada pada jalur yang sama, meskipun terdapat fakta bahwa terbentuknya Danau Singkarak karena peristiwa tektonik yaitu karena pergeseran atas patahan sehingga membentuk lubang yang dalam (lebih dari 200m) sedangkan Danau Maninjau terbentuk dari peristiwa vulkanik yang merupakan kaldera dari Gunung Tinjau.

Untuk membuktikannya secara kasar dapat kita coba dengan menghitung debit air yang masuk ke Danau Singkarak dan debit keluarnya.  Air Danau Singkarak dipasok oleh dua sungai besar yaitu Batang Sumani dan Batang Sumpu. Sedangkan air keluar hanya melalui sungai Batang Ombilin dan PLTA Singkarak dan mungkin perlu juga dipertimbangkan faktor penguapan. Jika terdapat selisih debit air masuk dan keluar maka dapat kita pastikan bahwa terdapat indikasi bahwa terowongan memang ada.

Namun demikian mengenai misteri ini perlu ahli untuk membuktikannya. Mungkin bisa jadi bahan penelitian yang menarik bagi kampus setempat seperti Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta dan lain-lain. Kita tunggu....!
Tags:
Danau Singkarak, Lake Singkarak, PLTA Singkarak, Singkarak Power Plant, Terowongan Singkarak, Singkarak Tunnel, Danau Maninjau, Lake Maninjau, PLTA Maninjau, Maninjau Power Plant, Misteri Danau, Danau Misteri, Mistery, Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta

Misteri Air Danau Singkarak yang Selalu Jernih

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com

Semenjak saya mempunyai sepeda motor, maka tour de Sumatera Barat sudah menjadi hal wajib minimal setiap enam bulan sekali. Rute yang kami lewati biasa adalah Indarung - Lubuk Sikarah - Danau DiAtas - Danau Dibawah - Danau Singkarak dan menginap di rumah gadang. Rute lainnya adalah ke Padang Panjang - Bukittinggi - Danau Maninjau - Lubuk Basuang - Pariaman - Padang.

Dari beberapa danau yang saya datangi maka menurut saya yang paling jernih airnya adalah Danau Singkarak. Jika kita berhenti sejenak di pinggir Danau Singkarak sebelum melanjutkan perjalanan, maka kita akan melihat dasar danau yang jernih dan ikan-ikan bilih yang berkilauan di antara tali-tali hidrila dan jaramun yang mengalun seirama riak air danau.

Pertanyaan yang menjadi misteri adalah bagaimana Danau Singkarak yang luas tersebut airnya bisa tetap jernih seperti  air kolam yang memiliki filter?

Banyak faktor yang menyumbang penyebab danau ini menjadi kotor. Salah satunya adalah karena  danau ini dari dulu disamping merupakan sumber air minum untuk penduduk sekitar namun juga merupakan tempat mandi, cuci dan jamban.

Berdasarkan pengamatan saya, jika pagi hari air danau ini sangat tenang dengan riak-riak sangat kecil dan sangat bening sekali. Namun jika sudah siang sekitar jam 11 siang maka air danau akan bergelombang membentuk ombak-ombak kecil. Air pun menjadi keruh dan tidak layak untuk mandi ataupun untuk mengambil air minum. Ajaibnya jika sudah mendekati sore sekitar jam 4 lewat maka air akan kembali menjadi tenang dan bening....Apakah penyebabnya...

Dugaan saya ada beberapa kemungkinan. Pertama sumber airnya yaitu Sungai Batang Lembang dan Sungai Batang Sumpu airnya jernih. Kedua, kondisi alam Danau Singkarak.

Untuk dugaan pertama, berdasarkan pengamatan saya, air dari Batang Lembang tidak bening dan cenderung coklat tanah liat, meskipun tidak pekat, namun ada kalanya bening. Sementara air dari Batang Sumpu saya belum pernah mengamatinya.

Namun saya lebih tertarik kepada dugaan kedua. Dasar Danau Singkarak berpasir (yang pasti adalah pada pinggirannya) karena untuk ke bagian yang dalam saya belum pernah mengamatinya. Saya lebih condong kepada dugaan ini karena pasir dapat berfungsi sebagai filter yang dapat menyaring air yang kotor menjadi bersih kembali.

Semua ini hanya dugaan logika saya saja. Perlu ahli hidrologi atau ahli tentang danau yang menyelidikinya. Sangat menarik dan menantang menurut saya.... Jika kaki saya tidak terikat pekerjaan seperti saat sekarang mungkin saya akan mencoba mencari tahu jawaban atas misteri ini, seperti Indiana Jones mencari harta karun. Jika ada yang tahu jawabannya tolong bantu saya agar saya dapat menjawab misteri ini...

Misteri tetaplah misteri, bahkan mistis,  sampai ada ahli yang dapat membuktikannya....

Kamis, 12 Januari 2012

Misteri Kandang Batu Singkarak



If you come to Lake Singkarak, then it is not complete if you do not visit the Kandang Batu (Stone Cage) located on the banks of Lake Singkarak. Huge rocks were partly exist in the mainland and partly submerged under water. The mistery is on the source of the rock. Where are they come from?

Misteri Tenggelamnya Prasasti Tangga Batu Bersurat Danau Singkarak

Tour de Singkarak Series by singkarak-traveler.blogspot,com

PadangKini.com  pada hari Senin tanggal 30 Maret 2009 menulis berita dengan headline " Tangga Batu Bersurat di Dasar Singkarak". Dalam berita tersebut disebutkan bahwa Tim Research Pengumpulan Data-data Sejarah Minangkabau yang diketuai Drs. Hasan Basri melaporkan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar, Agustus 1970 mendapatkan cerita adanya ‘batu basurek' (batu bertulis) di Batu Baraguang, Sumpur, tepi Danau Singkarak. Tapi batu tersebut sudah terbenam beberapa meter ke dalam danau.

Di bawah batu basurek tersebut ada terdapat ‘batu bajanjang' (tangga batu) yang turun ke dalam danau dan di tengah danau tangga tersebut menonjol ke atas dan turun lagi kira-kira 1 km dan naik lagi sampai ke pantai seberang Jorong Sudut Sumpur.

"Menurut keterangan penangkap ikan, bagian tangga yang meninggi itu hanya beberapa meter di bawah air permukaan danau, dan di kiri-kanan batu bersurat tersebut terdapat gua-gua," demikian isi laporan tim yang dikutip dari makalahnya.

Mengenai keberadaan batu prasasti/batu bersurat ini sampai saat ini masih menjadi misteri. Pertama, apakah batu tersebut memang ada atau hanya berdasar cerita dari mulut ke mulut (kaba)? Kedua, jika batu bersurat tersebut memang ada, peristiwa apa yang menyebabkan batu tersebut tenggelam ke dasar Danau Singkarak. 

Mengenai misteri keberadaan batu bersurat ini, kemungkinan besar memang ada dengan indikasi bahwa ada laporan dari Tim Research Pengumpulan Data-data Sejarah Minangkabau yang diketuai Drs. Hasan Basri yang melaporkan adanya Batu Bersurat di Sumpur Danau Singkarak dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar, Agustus 1970.

Fakta kedua, Muhammad Radjab dalam bukunya Semasa Kecil di Kampung (Anak Danau Singkarak) terbitan Balai Pustaka tahun 1950 menulis bahwa " Tidak jauh ke timur Batu Beragung, ada sebuah dinding batu besar yang di tepi danau betul, bertulisan Sanskerta. Batu bersurat namanya. Jarang orang berani bersampan ke depannya, sebab oleh orang-orang kampung dipandang sakti, apalagi air di sana sangat dalam dan biru, dan ada pula ulakan yang menyeret apa saja ke bawah." Jika kita membaca buku beliau yang sangat detil menjelaskan tentang Sumpur, maka akan terasa nyata bahwa memang beliau pernah tinggal di Sumpur dan menyaksikan keberadaan Prasasti Batu Tangga Basurek Danau Singkarak tersebut.

Fakta ketiga, ada pantun orang minang yaitu "tidaklah ada asap tanpa ada api". Cerita mengenai Prasasti Batu Basurek Singkarak ini kemungkinan besar memang ada. Suatu cerita/kaba tidak akan muncul dengan sendirinya jika tidak ada peristiwa atau kenyataan. Kaba tersebut beredar dari mulut ke mulut dan  kadang-kadang sering dilebih-lebihkan supaya para pendengar senang mendengarnya. Namun biasanya benda yang diceritakan biasanya ada. Misalnya ketika tukang kaba menceritakan bahwa Gunung Merapi sebesar telur itik, pada kenyataannya Gunung Merapi itu memang ada, tapi sebesar telur itiknya memang terlalu berlebihan walaupun mungkin bisa dibantah karena jika kita lihat dari jauh maka jika kita bandingkan Gunung Merapi  dengan telur itik maka akan kurang lebih sama.

Jika kita kaitkan dengan keberadaannya prasasti ini di Sumpur maka kita bisa melihat kemungkinan bahwa pada zaman pemerintahan Raja Alam sekitar abad ke 15 di Sumpur pernah di perintah oleh seorang wakil raja, yaitu Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus, mungkinkah kita dapat menduga bahwa prasasti ini berasal dari Raja Ibadat? Namun karena Muhammad Radjab menyatakan bahwa prasasti ini bertuliskan huruf Sanskerta, maka kemungkinan prasasti ini merupakan bagian dari prasasti di masa pemerintahan Adityawarman yang tersebar di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Kemudian, mengenai tenggelamnya prasasti ini juga menjadi misteri tersendiri. Kemungkinan yang utama adalah bahwa penyebabnya bencana yang bisa berasal dari naiknya permukaan air Danau Singkarak, atau turunnya dasar danau akibat bencana gempa. Mengenai naiknya air Danau Singkarak tidak pernah ada catatan yang dapat ditemukan dan sampai saat ini meskipun permukaan air Danau Singkarak sudah turun karena disedot oleh PLTA Singkarak, keberadaan prasasti Danau Singkarak ini masih tidak ditemukan.

Jika kita kaitkan dengan gempa, maka kemungkinan penyebabnya adalah gempa yang berpusat di Padang Panjang pada tanggal 28 Juni 1926. Gempa ini menyebabkan rekahan tanah di beberapa daerah. Jika kita kaitkan dengan Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar yang diadakan pada  Agustus 1970, maka keberadaan batu ini masih ada yang mengetahui keberadaannya sebelumnya. Jadi kira-kira orang yang bercerita kemungkinan lahir sebelum gempa dan pada tahun 1970 baru berumur sekitar 50 tahun sehingga bisa menyampaikan tentang prasasti tersebut kepada orang lain.

Faktor lain yang menyebabkan hilangnya prasasti ini mungkin karena gempa besar dengan kekuatan 7,6 SR yang berpusat di Singkarak pada tanggal 9 Juni 1943. Setelah gempa diketahui telah terjadi pensesaran sepanjang 60 KM antara Danau Singkarak dan Danau Diatas. Di Salayo jalan bergeser sepanjang 2-3 meter. 

Misteri keberadaan Prasasti Tangga Bersurat Singkarak ini sampai hari ini belum terpecahkan....!!!
Siapakah ahli sejarah yang akan mengambil kesempatan untuk menjadi orang pertama di dunia yang akan menemukannya?
Siapakah ahli sejarah yang akan menempatkan namanya dalam catatan dunia ?????
Siapakah yang mau menjadi Indiana Jones the explorer yang akan bertualang mencari harta-harta karun di negeri ini?

Selasa, 10 Januari 2012

Misteri di Danau Singkarak - Mistery of Lake Singkarak, Tour de Singkarak

Di masa saya kecil banyak desas desus yang beredar tentang Danau Singkarak.
1. Misteri penunggu danau yang setiap tahun makan korban
2. Misteri Kandang Batu Singkarak
3. Misteri blok minyak bumi Singkarak
4. Misteri ikan sebesar bayi manusia
5. Misteri batang ombilin

Yang jadi pertanyaan, semua hal tersebut masih menjadi misteri sampai saat ini. Ada apa gerangan. Apakah memang benar demikian?

Senin, 02 Januari 2012

Kenangan Masa Kecil di Danau Singkarak - Lake Singkarak of Tour de Singkarak, My Motherland

Kabut tebal sudah mulai menipis, namun pelukan dingin masih menusuk sampai ke tulang. Proses hibernasi sudah hampir selesai, namun sebagian masih berusaha memperpanjang lelap, seakan enggan berpisah dengan dekapan malam.


Yuang...Jago lah lai…lah ka subuah..(ayo bangun nak…sudah mau subuh)….kata Uwak (nenek) membangunkan kami… Sementara kami baru mengucek mata, beliau sudah lengkap dengan peralatan perangnya berupa piring-piring dan pakaian yang akan dicuci. Piring-piring diletakkan didalam baskom yang kemudian diletakkan di atas kepala beliau.Tangan kiri membawa ember berisi pakaian, sedangkan tangan kanan membawa ember kosong yang nantinya akan diisi air mentah dari danau yang akan dimasak untuk air minum. Kami berusaha untuk bangun. Ah...mata ini masih berat dan badan ini belum bisa diajak berkawan dengan dingin yang masih menusuk tulang. Terpaksa lagi pelukan sarung dikencangkan. Ah terasa nikmat jika badan ini bisa merapat ke lantai lagi....ya lantai karena kami semua tidur di lantai yang beralaskan tikar karena kamar yang lima tidak digunakan lagi sejak lama...Takut kata Ibu ketika saya menanyakan kenapa tidak tidur di kamar saja...


Uwak kemudian turun dari rumah gadang kami yang memiliki ruangan/kamar sebanyak lima buah…istilah orang Minang rumah gadang kami adalah Rumah Gadang Limo Ruang. Setiap langkah beliau serasa menyayat hati karena rumah gadang ini kayu-kayunya sudah banyak yang lapuk dan dimakan bubuk (sejenis rayap kayu)…Ah rumah ini memang sudah lama dibuat. Kata Uwak dulu untuk membangun rumah gadang ini diadakan dulu musyawarah dalam suku Sumpadang (suku ibu saya), setelah semua setuju maka beramai-ramai mereka ke hutan untuk mencari kayu untuk tiang-tiang utama. Kayu-kayu tersebut kemudian digotong beramai-ramai dari hutan ke tempat pendirian rumah gadang. Kemudian akan ada upacara untuk pendirian tonggak (tiang) utama tersebut sekaligus doa keselamatan dipanjatkan kepada Tuhan Pemilik Alam Raya ini. Setiap berkunjung ke rumah gadang sering pandangan saya layangkan ke atas salah satu pintu dari kamar yang ada. Di sana ada pigura yang  berisikan tulisan dalam bahasa arab melayu yang saya susah untuk membacanya. Tapi yang pasti disana ada angka 1921. Itu tahun renovasi rumah gadang ini kata uwak….Oooo kata saya dalam hati sambil melongo….


Masih kelam di luar rumah gadang ketika kami turun meniti tangga beranda rumah gadang. Nyala lampu strongkeng (petromaks) sudah lama berganti dengan lampu semprong (lampu teplok/sentir) sejak kami mulai tidur. Tak ada penerangan jalan tidak menjadi beban, karena jalan sudah hapal. Memang tak salah jika nenek moyang kami berpepatah "pasa jalan dek ditampuah, lanca kaji dek di ulang" yang kurang lebih bermakna bahwa "jalan menjadi ramai kalau sering dilewati orang dan pelajaran akan lebih lancar kalau sering diulang"...... Ah pasti air danau singkarak sangat dingin sesubuh ini...... Belum sampai di danau kami sudah menggigil membayangkannya.


"Ka pai kama yuang (Mau kemana nak?)" tanya seorang ibu ketika kami melewati depan rumah gadangnya."Ka pasia mak (ke pasir bu)" jawab kami. Kalau ke danau memang kami menggunakan istilah "pasia" yang berarti pasir. Entah mengapa digunakan istilah itu, mungkin karena nama desanya Pasir atau karena memang pinggir danau kami ini berpasir...entah..


Tak sampai lima menit kami sudah sampai di pemandian pinggir danau. Lokasinya persis di mesjid. Antara pemandian laki laki dan perempuan terpisahkan oleh bangunan surau (musholla) dan  sebatang pohon beringin raksasa yang akarnya menjuntai sampai ke tengah danau (ah kata "tengah danau" terlalu berlebihan...tapi tukang kaba biasanya senang melebih-lebihkan kata supaya jadi seru ceritanya)


Di dekat pemandian pinggir ada lantai beton seperti dermaga. Kami pun meletakkan pakaian di atasnya. Dingin semakin menusuk tulang. Dengan ragu kami celupkan jemari kaki ke air yang dingin.....ternyata tidak sedingin yang kami bayangkan, bahkan terasa lebih hangat dari udara sekitar. Kami pun menjadi lebih yakin dan kemudian menceburkan diri ke dinginnya air danau....Segar sekali rasanya...Badan terasa hangat meskipun dingin masih menyiksa hidung dan telinga kami...Cerita uwak memang benar bahwa kalau mandi di danau itu lebih baik pagi sebelum subuh karena airnya lebih hangat...


Kami sudah selesai mandi ketika gharin (marbot) sudah bersiap mengumandangkan azan subuh. Selesai azan kami pun sholat sunnah dan kemudian sholat berjamaah yang dipimpin oleh imam yang sering disebut pakih.


Selesai sholat subuh kami berjalan pulang sambil bercanda ria dengan teman-teman seangkatan. Kicau burung turut mengiringi kegembiraan kami. Pagi yang indah...Di rumah sudah menunggu ketan dan pisang goreng....





Jumat, 16 Desember 2011

View of Singkarak Lake West Sumatra



Foto Danau Singkarak ini kutemukan secara tak sengaja di perpustakaan maya Belanda saat berselancar di dunia kasat mata... Sejarah kita memang tersimpan di sana..... Suatu saat aku akan datang ke sana untuk mengambilnya...

Lihatlah rel kereta yang berkelok seirama jalan dan membentuk bingkai-bingkai pigura pada tepian Danau Singkarak.... Kan kucari spot ini untuk menembakkan Canonku ke alam raya sekitar...