Mentawai Island Surfing

The Mentawai Islands of Indonesia are one of the most consistent surfing travel destinations in the world (photo: mentawaiislands.com)

Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi is one of West Sumatra famous destination landmark (photo:tourdesingkarak.com)

Beautiful Lake Singkarak

Visit the clear and cool water of Lake Singkarak (photo:faceofindonesia.com)

44 Winding Road of Maninjau

Beatiful scenery of 44 Winding Road (Kelok 44) that leads to Maninjau Lake (photo: tourdesingkarak.com)

Minangkabau Traditional Martial Arts

One of famous Harimau Campa style of Minangkabau traditional martial arts (photo:faceofindonesia.com)

Tampilkan postingan dengan label Area Padang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Area Padang. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

MENIKMATI PESONA EKSOTISME PANTAI AIR MANIS DAN PULAU PISANG

Matahari mulai beranjak ke peraduan
Ketika para peselanjar pulang ke pondok - pondok mereka...
Puas sudah meniti ombak hari ini...

Kapal si Malin Kundang masih dikutuk
Warung-warung mulai berkemas
Selesai sudah hari ini


Minggu, 15 April 2012

Bertualang Mencari Umang-Umang (Klomang) di Pulau Pisang, Padang, West Sumatra

"Ayo kita ke pantai mencari klomang" kata saya kepada si sulung dan adiknya. Seketika keduanya langsung meloncat dengan wajah-wajah yang diliputi kegembiraan luar biasa. Bagi anak seusia mereka, bermain dengan hewan-hewan adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Di tempat tinggal kami, hampir sudah tidak ada lagi hewan-hewan kecil seperti kupu-kupu, jangkrik, belalang yang mereka ajak bermain. Jadi kami terpaksa mencari ke desa-desa dimana hewan tersebut masih ada. Bagi saya yang memang lahir di kampung, hal tersebut tidaklah luar biasa, karena kegembiraan itu bisa kami dapatkan tiap hari di sekitar rumah.

Hari sudah menjelang siang ketika kami akan berangkat. Perjalanan ditempuh hanya dalam waktu 15 menit karena Pulau Pisang yang berada di pantai Air Manis Padang tersebut terletak dekat sekali dengan rumah. Cuma jalanan ke sana agak sempit, jadi disarankan untuk memakai mobil kecil.

Dari kejauhan kita dapat melihat dua pulau yang saling berjajar. Pulau yang paling kecil adalah Pulau Pisang Ketek dan yang paling besar adalaha Pulau Pisang Gadang. Kedua pulau ini memiliki pantai yang sangat indah.

Ketika pasang sudah mulai surut, maka kita dapat berjalan ke Pulau Pisang Ketek. Di sana, anak-anak dapat bermain sepuas hati karena masih banyak biota laut seperti bintang laut, landak laut, klomang, dan kepiting.

Puas main di pulang pisang, wisata dapat dilanjutkan ke batu Malin Kundang anak durhaka yang terletak dekat Pulau Pisang, atau kita bisa bermain bola di Pantai Air Manis, atau bahkan surfing di sana.

Jika membawa anak-anak, maka waktu seharian tidak akan terasa, bergembiralah dari pagi hingga sore. Jika lapar, maka banyak warung yang tersedia...

Selasa, 27 Maret 2012

Exotic Sikuai Island

Pernahkah anda membayangkan berenang di pantai yang berair tenang dan jernih dengan ikan-ikan kecil yang berenang kian kemari? Datanglah ke Pulau Sikuai, salah satu pulau yang menjadi tujuan wisata mancanegara. Anda dan anak-anak pasti akan bentah berlama-lama berada di pulau surga ini...



" SIKUAI " is a beautiful private island in West Sumatra, Indonesia. It basks in tropical weather all year long and is perfect for a peaceful getaway from the bustle of the city. Sikuai island is one of the most picturesque destinations in West Sumatra with its untouched forest leading to easily accessible white sand beaches all around the island.

Sikuai has a total area of 44.4 Ha - integrated with 54 rooms, restaurant, meeting room, swimming pool, sunset plaza and jogging track surrounding the island.

The Atmosphere
The island is rich with the nature of tropical rainforest and coral reefs. Relax and unwind at our white sand beach amidst the coconut trees and do not forget to catch the sunset from the Sunset Plaza viewpoint.

Sikuai is where the dream truly becomes reality - you will feel like you are on your own private island.

How To Get to Sikuai Island
From BIM Airport (Minangkabau International Airport - PDG) it is best to take a taxi or any other form of transport and ask them to go to " Dermaga Wisata Bahari in Pelabuhan Muara". Most people at the airport will know where that is in Padang.

It is about a 45 minute drive from the airport to our office at Dermaga Wisata Bahari. Following the check-in guests can relax and wait for the departure at AW Resto. Sikuai island is located 23 km from Padang and takes about an hour to reach by our boats (less than half an hour if using a speedboat).


Boat Transfer & Return Schedule
    * From Dermaga Wisata Bahari - Sikuai Island at 10.00 and 14.00
    * From Sikuai Island - Dermaga Wisata Bahari at 11.00 and 16.00

Electricity Schedule
    * On  : 05.00 PM - 09.00 AM
    * Off  : 09.00 AM - 05.00 PM

Dermaga Wisata Bahari (AW Resto)
Jl. Batang Arau Padang - West Sumatra- Indonesia


Sumber: http://www.newsikuai-island.com/

Kamis, 02 Februari 2012

Pantai Aia Manih (Air Manis) Padang

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com

Rabu, 01 Februari 2012

Masjid Raya Gantiang - Padang


TUHAN TELAH MATI

(dari sebuah lagu lama yang mendengung diingatan)

Saat melintas di simpang Tabing,
Aku lihat orang berwajah putih nyebrang
Pakaiannya serba putih terlambai tertiup angin petang
Dan sang surya pergi ke pantai barat ingin cepat pulang

Wajahnya sayu dengan senyum kuyu
Aku menyapa basa basi sambil lalu
"Apa kabar pak tua?"
Dia berhenti dan menatap padaku
Bola matanya buatku merinding; hijau

"Kabar duka" jawabnya pendek
"Apa yang terjadi? memang bapak siapa?"
"Aku adalah malaikat" ucapnya masih dengan suara serak
Aku tertawa, tertawa lepas tak peduli ada di depannya
Mungkin dia orang gila di seputaran tugu Adipuran yang tengah mabuk!

"Dari mana wahai engkau malaikat? apa kabar Tuhan hari ini?" ikut gila celotehku
"Tuhan telah mati"
"Tuhan mati? Sang Awal dan Sang Akhir telah mati?" terbahak aku
Orang mabuk dan gila sepertinya mulai jadi penghias kota tua!

"Kenapa engkau tertawa wahai anak muda? aku baru saja dari acara penguburan Tuhan!"
Aku diam, sementara gelap telah mencengkram
Angin malam mulai mendingin
Lampu-lampu kendaraan berseliweran buram
Khatib Sulaiman mulai menguning bertabur lampu jalan
"Pak tua, kau kualat. Dia adalah Tuhan. Dia bukan makhluk namun Dia adalah penguasa makhluk. Kekal adalah sifat tak terbantahkan!"

"Pak tua, kau kualat! kau benar-benar kualat! cepatlah bertobat,
dan kau bukan malaikat, kau sekadar orang gila yang mabuk berat"
Orang pucat itu menatapku erat
Mata hijaunya membesar buat kutakut
Tapi dia bercanda dengan Tuhan buat marahku larut

“Anak muda kenapa engkau tak percaya padaku?”
Suaranya pelan tetap serak
Apakah kesedihan di situ?
Bulan sabit tertutp awan di atas gonjong Padang bersama bintang-bintang perak
“Bagaimana aku bisa percaya padamu wahai malaikat penipu?”

“Aku baru saja dari pemakaman Tuhan!” kini suaranya mengeras
“Aku tak percaya, kau orang gila yang sedang mabuk!” sanggahku tegas
“Aku bukan penipu dan bukan orang gila atau mabuk. Aku malaikat!”
“Cobalah terangkan padaku wahai malaikat tua; kapan dan di mana Tuhan di makamkan? Dan bagaimana Tuhan bisa mati?” aku mengalah pada orang gila yang mabuk
(semoga aku tak ikutan gila serta mabuk pula)

Mulailah ia bercerita,
“Aku baru saja berjalan-jalan menyusuri kota,
Aku lihat orang-orang beribadah di mal-mal,
Aku lihat orang-orang rukuk di lantai dansa,
Aku lihat orang-orang sujud pada harta,
Aku lihat orang-orang menghamba pada manusia,
Aku lihat mereka telah mengganti kitab suci dengan televisi,
Aku pun mendengar mereka mengaji dengan ayat-ayat yang tak pernah aku sampaikan pada rasul yang agung 14 abad yang lalu,
Dan mereka mulai berzikir untuk mengagungkan materi,
Tuhan telah mati….. Tuhan telah mati….”

Malam semakin gelap dan angin mulai menembus jaket
Di atas trotoar Samudera,
Dua pasang muda-mudi lalu di depan kami,
Berjalan berdekapan erat seolah ingin melawan dingin

Pak tua bermata hijau itu melanjutkan ceritanya,
Suara serak kini makin mengeras,
“Mereka usung keranda yang berisi Tuhan dalam balutan kealiman saat menjalankan larangan Tuhan,
Kau tahu,
Aku mendengar sekelompok orang bicarakan BT di teras masjid usai sholat magrib!
Mereka tengah mengusung-Nya….. mereka adalah pengusung keranda itu!”
Kalimat terakhir dilafaskannya dengan lengkingan keras

“Lalu mereka mengubur Tuhan dalam diskusi yang berisi Tuhan itu ada di mana-mana!
Hingga tak ada lagi yang Esa
Engkau tahu wahai anak muda,
Dia adalah satu, tak beranak dan tidak diperanakkan,
Tak ada yang menyerupainnya!”
Aku diam seribu bahasa,
Tuhan, semoga Engkau masih hidup dalam diri rapuh ku…

September 2011, Rifki

Puisi Rifki Ferdiansyah
RIFKI FERDIANSYAH, 28 tahun yang lalu lahir di Semarang; tepatnya pada hari keempat di bulan Mei 1983. Menamatkan kuliah Sastra Inggris di Universitas Bung Hatta pada tahun 2005. Tertarik dengan dunia jurnalistik dan sempat merasakan dunia jurnlis. Namun, profesi guru bahasa Inggris di salah satu Sekolah Menengah Pertama kota Padang menjadi aktivitas sehari-harinya kini. 

Romansa Kota Tua Padang - West Sumatra

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com


SI PADANG, OH SI PADANG (RAPSODI ZAMAN)

                        Engku muda!
Jalan ini, jalan tidak bertapak engku! Sebelah utara di rel lokomotif tua pingiran muara
engku berjalan sendiri menjemput senyum gadis cina, yang diapit hasap hio di kelenteng
karcis kelas II seharga ƒ 0,5 (gulden) masih engku pegang sebab pertunjukanToneel tidak jadi
Orang-orang membiarkan mukanya terendap dalam lenguh si kuda bendi di pasar Kuranji
dan nama engku tercatat dalam roman itu “Si pelerai kasih” itulah kabar angin yang tersiar

Malam minggu selepas petang bergerimis di awal  Desember 1921, kita berjanji di sini,
Aku mengenakan kebaya, sedang engku mengenakan peci dan sarung tenun dari Samarinda
Di tangan masih hangat berita di Pertja Barat, koran sore yang remuk aku lipat.  Engku datang
Seperti gerak lokomotif mengangkut karang putih berdenyut-denyut darah dalam jantungku
Emmahaven nan bacin, dermaga Gaung sisa-sisa kantuk tersemat di ceruk matamu engku.
Dan kita berlalu, memikir negeri, mengukir asma azan di dada masing-masing.

Uda
Jalan ini, jalan tidak bertapak uda! Masing ingatkah kita bersepeda melintasi gardu Muara
Malam minggu selepas petang bergerimis di awal  Desember 1973, kita berjanji di sini,
Aku mengenakan rok dan blues sedang uda, levis cut bray, kemeja ketat dan kriting kribo
Ke Gunung Padang kita, ke Gunung Padang, menjenguk rindu pada ujung-ujung buih lautan
Kita kunyah gulali, kita kuliti kacang abuih, dan lidah kita berdecak-decak,kencan pertama
Denyut kota ini semakin lenguh di antara lagu-lagu gamad,mengalir seperti terlerai dari zaman
                                   
                                    Sayang!          
Malam minggu selepas petang bergerimis di awal Desember 2005, kita berjanji di sini
Di jalan damar, sore yang ribut terkantuk, bau amis laut berganti dengan seduh kopi pahit,
Mesin-mesin ketik tua kejar-mengejar dari ruang redaksi, Haluan mencatat “Generasi Sesak”
Lamat  lagu gamat, suara azan semakin jauh digilas lalu lintas sibuk, etalase, bilboar, rapun
Dan angin lasi terantuk, di losmen, gincu tebal dan dentang ombak puruih teramat nyinyir,
dan kita berlalu  seperti lagi sedih, si padang oh si padang, lalu orang-orang berteriak “Tsunami”
                       
Honey!
Jalan ini jalan tidak bertapak sayang! Masih ingat? kita larut dalam desak payung-payung Taplau
gue mengenakan tank top biru muda, levis potong paha, sedang elo  keluar ala “Mohawk”modis
dan kita seperti sesak mengukir warna di biru di kanal-kanal teluk tubuhku, di gelinjang betisku
jalan-jalan seperti pentas catwalk, hinggar dentum musik dari angkot, surau-surau  lengang, seperti riak yang berteriak-teriak si pongah.  Beragam aroma nafas, amis keringat akhirnya berderam labuh di sudut-sudut kota, sumpah serapah dan seseorang menunjuk ke arahku “uwia-uwia mintak gatah” dan kita berlalu tak peduli seperti lagi sedih si padang oh si padang,  kian kisut, semakin lagis terantuk di tikam zaman.


Puisi Kurnia Hadinata
KURNIA HADINATA, dilahirkan 17 Desember 1981 silam di kota budaya Batusangkar, Sumatera Barat. Merupakan alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2004. Tahun 2011 menamatkan pendidikan S2-nya di almamater yang sama. Sampai sekarang aktif menulis dan mengisi kolom, puisi, cerpen, artikel dan feature dan foto di beberapa media lokal Sumbar dan nasional, diantaranya Harian Singgalang, Harian Padang Ekspres, HarianHaluan, Harian Mimbar Minang. Majalah Sastra Horison (Jakarta), MajalahKartini (Jakarta). Secara pribadi pernah menerbitkan buku kumpulan puisi yang bertajuk Aubade Pesta Hujan (2003). Musim Hujan yang Menggugurkan Daun-daun Puisi (2007), Lelaki yang Kawin dengan Orang Bunian  (Kumpulan Cerpen, 2007) dan sebuah novelBianglala di Bukit Barisan (2008). Pernah menjadi wartawan lepas di beberapa media massa diantaranya Harian Haluan Padang (2004-2005) menjadi Koresponden LKBN ANTARA (2005-2006). Berbagai penghargaan pernah diraihnya diantaranya nominator Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional pada Festival Kreativitas Pemuda 2006 kerjasama Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementrian Pemuda dan Olah Raga RI denganCreative Writing Institute (CWI). Juara 3 Lomba menulis Essai  Pendidikan Antar Wartawan Se- Kabupaten Pasaman tahun 2009. Peringkat 3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Guru Se-Sumbar Tahun 2009. Nominator 20 Cerpen Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja Rhoto Award 2009. PeringkatRunner-Up Lomba Menulis Cerpen (LMCP) tingkat Nasional antar guru SMA/SMK tahun 2009. Tahun 2010 bukunya “Ayo Membuat Film Cerita Pendek” berhasil meraih Juara 1 Sayembara Menulis Buku Pusat Perbukuan Nasional Kemendiknas.  Saat ini sambil mengajar di SMP Negeri 2 Panti Pasaman Sumatera Barat juga terus mengelola rumah baca dan sanggar menulis bagi anak miskin dan pemuda putus sekolah,  di Kabupaten Pasaman. Sekarang penulis menetap di Jl. Pasar Inpres Air Terbit Panti No 31, Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman, Sumbar.