Mentawai Island Surfing

The Mentawai Islands of Indonesia are one of the most consistent surfing travel destinations in the world (photo: mentawaiislands.com)

Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi is one of West Sumatra famous destination landmark (photo:tourdesingkarak.com)

Beautiful Lake Singkarak

Visit the clear and cool water of Lake Singkarak (photo:faceofindonesia.com)

44 Winding Road of Maninjau

Beatiful scenery of 44 Winding Road (Kelok 44) that leads to Maninjau Lake (photo: tourdesingkarak.com)

Minangkabau Traditional Martial Arts

One of famous Harimau Campa style of Minangkabau traditional martial arts (photo:faceofindonesia.com)

Selasa, 07 Februari 2012

Tour de Singkarak 2012 Dimulai dari Sawahlunto

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com


foto


TEMPO.CO, Padang - Kota Sawahlunto dipastikan menjadi titik start lomba balap sepeda internasional Tour de Singkarak 2012 yang akan digelar di Sumatera Barat pada 4 Juni-10 Juni. Dalam tiga kali penyelenggaraan Tour de Singkarak sebelumnya, titik start selalu dimulai dari Padang. Namun, tahun ini, Padang menjadi titik finis Tour de Singkarak.

Wali Kota Sawahlunto Amran Nur menyambut gembira terpilihnya Sawahlunto sebagai tuan rumah dalam pembukaan Tour de Singkarak. Menurutnya, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar menunjuk Sawahlunto sebagai tuan rumah karena Sawahlunto dianggap paling siap berpartisipasi dalam penyelenggaraan Tour de Singkarak.

“Kami siap menerima 500 tamu yang akan datang dalam Tour de Singkarak. Hotel di Sawahlunto juga sudah bertambah dan cukup untuk menampung peserta Tour de Singkarak,” kata Amran Nur, Sabtu, 21 Januari 2012.

Ia mengatakan akan mempersiapkan sejumlah tempat wisata kota tambang di Sawahlunto untuk menyambut peserta Tour de Singkarak. Apalagi Sawahlunto juga sudah ditetapkan menjadi salah satu kota tua terbaik di Indonesia.

“Rencana kami, begitu sampai di Padang, peserta Tour de Singkarak kami bawa ke Padang Panjang, dan dari Padang Panjang mereka akan naik kereta api lokomotif uap Mak Itam ke Sawahlunto yang menyusuri tepian Danau Singkarak. Itu perjalanan yang amat menarik,” kata Amran Nur.

Kereta api uap Mak Itam adalah ikon pariwisata Sawahlunto. Pada Tour de Singkarak sebelumnya, Mak Itam hanya membawa pembalap dan sepedanya pada jalur pendek dari Kota Sawahlunto ke Muaro Kalaban.

Tour de Singkarak 2012 akan diikuti 25 tim, terdiri atas 15 tim luar negeri dan 10 tim dalam negeri. Tujuh etape akan dilombakan di balapan yang akan melewati 14 kabupaten dan kota di Sumatera Barat itu.

Kabupaten Sijunjung dan Pesisir Selatan menjadi dua kabupaten baru yang masuk rute Tour de Singkarak, sehingga total rute yang akan ditempuh pembalap adalah 800 kilometer. Total hadiah Tour de Singkarak tahun ini naik menjadi Rp 1 miliar, dibandingkan tahun lalu Rp 750 juta

Sumber: foto dan berita dari tempo.co

Tour de Singkarak 2012

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com



Padang (ANTARA News) - Lomba balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS) 2012 di Sumatera Barat, 4-10 Juni 2012, akan memperebutkan hadiah total Rp1 miliar.


"Untuk penyelenggaraan TdS 2012 ini, panitia menyediakan total hadiah sebanyak Rp1 miliar," kata kepala dinas kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Sumatera Barat Burhasman Bur di Padang, Rabu.


Ia mengatakan, adanya peningkatan jumlah hadiah dibanding dengan penyelenggaraan TdS 2011 lalu yang berjumlah Rp750 juta merupakan bagian dari inovasi untuk bisa menambah daya tarik event ini agar lebih bergengsi pada tahun sebelumnya.


Lebih lanjut ia menambahkan, total hadiah yang disiapkan panitia penyelenggara itu merupakan pendanaan gabungan dari 14 pemerintah kabupaten/kota yang akan dilewati para peserta balap sepeda, serta gabungan dari Pemprov Sumbar dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.


Burhasman juga mengatakan, total hadiah tersebut akan dibagi dalam beberapa kategori pertandingan, termasuk pebalap yang juara dalam masing-masing etape.


"Untuk besar hadiah per etapenya masih dalam pengkajian oleh panitia dan Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI), termasuk juara umum dalam perlombaan tersebut," katanya.


Selain itu katanya, pembagian jarak masing-masing etapenya juga dalam tahap pembahasan dengan melibatkan badan Balap Sepeda Internasional (UCI).


Ia mengharapkan, dengan bertambahnya hadiah dalam perlombaan tersebut mampu memancing tim balap sepeda unggulan yang selama ini juga turun dalam event balap sepeda internasional lainnya seperti Tour de France dan Tour de Langkawi.


Selain meningkatkan jumlah hadiah dalam peregelaran TdS 2012 ini, sebagai inovasi baru, panitia juga memindahkan tempat start pebalap, yang selama ini rutin dilaksanakan di Kota Padang untuk penyelenggaraan tahun ini dimulai dari Kota Sawahlunto.


"Ini juga bagian dari langkah-langkah panitia agar penyelenggaraan event ini lebih dinamis dan memberikan nuansa baru dalam setiap penyelenggaraan," katanya.


Tour de Singkarak merupakan ajang internasional lomba balap sepeda tahunan yang sudah berlangsung tiga kali sejak tahun 2009.


Ajang ini sudah menjadi agenda resmi tahunan Organisasi Balap Sepeda Dunia (Union Cycliste Internationale) bekerja sama dengan Pengurus Besar ISSI, pemerintahan daerah dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.


Berdasarkan data tahun lalu, TdS terlaksana di 12 kabupaten dan kota di Sumbar serta melombakan 7 etape dengan jarak total 739,3 km diikuti oleh oleh 13 tim internasional dan 11 tim nasional dengan total negara yang ikut serta adalah 17 negara.

Sumber:
Foto   : tourdesingkarak.com
Berita : antaranews.com

Minggu, 05 Februari 2012

Pakaian Adat Minangkabau Zaman Belanda

Tour de Singkarak Series by singkarak-traveler.blogspot.com
Lihatlah tingginya seni budaya dan tatacara berbusana orang dahulu. Setiap detil pakaian mereka melambangkan cita rasa seni dan filosofi yang sangat tinggi. Motif dan anyaman memberikan perlambang yang filosofis. Bandingkan dengan pakaian zaman sekarang yang cenderung berpakaian seperti orang suku terasing dan bercita rasa sangat rendah....Ah datuk.....malu kami ini.....

















Foto-foto dari perpustakaan  Belanda dan lainnya (lihat sumber di foto: sengaja ditampilkan apa adanya)

Kamis, 02 Februari 2012

Ayam Kokok Balenggek - Solok Sumatera Barat


Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com



Air Terjun Bayang Sani - Pesisir Selatan

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com

Pantai Aia Manih (Air Manis) Padang

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com

Lapuknya Balai Nagari - Simbol Adat yang Kalah oleh Zaman

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com

Balai dalam pengertian orang minang berarti tempat pertemuan, yang wujudnya bisa berbentuk Gedung Pertemuan atau Pasar. Keberadaan Balai Nagari ini mirip dengan keberadaan Alun-Alun di Jawa, dimana alun-alun biasanya menjadi pusat sosialisasi masyarakat.

Keberadaan Balai Nagari di Sumatera Barat saat ini banyak yang tidak terawat. Hal ini menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap kelembagaan adat yang ada. Keberadaan Balai Nagari tidak lagi menjadi prestise/kebanggaan suatu suku/kaum/nagari. Bahkan mereka sudah tidak malu jika Balai Nagari mereka lusuh, kusam, lapuk dan hancur dimakan rayap.

Saat ini sangat sulit untuk mencari Balai Nagari yang representatif dan dapat dibanggakan. Mungkin salah satunya ada di Nagari Singkarak yang berada dekat Danau Singkarak. Fotonya seperti dibawah ini.

Namun keberadaan Balai Nagari Singkarak juga tidak terawat dan dirusak keindahannya oleh bangunan dari beton yang menempel disampingnya. Bahkan kadang-kadang bagian bawahnya menjadi tempat bernaung binatang.

Beberapa Balai Nagari lainnya dapat kita lihat pada gambar berikut:


Rabu, 01 Februari 2012

Masjid Raya Gantiang - Padang


TUHAN TELAH MATI

(dari sebuah lagu lama yang mendengung diingatan)

Saat melintas di simpang Tabing,
Aku lihat orang berwajah putih nyebrang
Pakaiannya serba putih terlambai tertiup angin petang
Dan sang surya pergi ke pantai barat ingin cepat pulang

Wajahnya sayu dengan senyum kuyu
Aku menyapa basa basi sambil lalu
"Apa kabar pak tua?"
Dia berhenti dan menatap padaku
Bola matanya buatku merinding; hijau

"Kabar duka" jawabnya pendek
"Apa yang terjadi? memang bapak siapa?"
"Aku adalah malaikat" ucapnya masih dengan suara serak
Aku tertawa, tertawa lepas tak peduli ada di depannya
Mungkin dia orang gila di seputaran tugu Adipuran yang tengah mabuk!

"Dari mana wahai engkau malaikat? apa kabar Tuhan hari ini?" ikut gila celotehku
"Tuhan telah mati"
"Tuhan mati? Sang Awal dan Sang Akhir telah mati?" terbahak aku
Orang mabuk dan gila sepertinya mulai jadi penghias kota tua!

"Kenapa engkau tertawa wahai anak muda? aku baru saja dari acara penguburan Tuhan!"
Aku diam, sementara gelap telah mencengkram
Angin malam mulai mendingin
Lampu-lampu kendaraan berseliweran buram
Khatib Sulaiman mulai menguning bertabur lampu jalan
"Pak tua, kau kualat. Dia adalah Tuhan. Dia bukan makhluk namun Dia adalah penguasa makhluk. Kekal adalah sifat tak terbantahkan!"

"Pak tua, kau kualat! kau benar-benar kualat! cepatlah bertobat,
dan kau bukan malaikat, kau sekadar orang gila yang mabuk berat"
Orang pucat itu menatapku erat
Mata hijaunya membesar buat kutakut
Tapi dia bercanda dengan Tuhan buat marahku larut

“Anak muda kenapa engkau tak percaya padaku?”
Suaranya pelan tetap serak
Apakah kesedihan di situ?
Bulan sabit tertutp awan di atas gonjong Padang bersama bintang-bintang perak
“Bagaimana aku bisa percaya padamu wahai malaikat penipu?”

“Aku baru saja dari pemakaman Tuhan!” kini suaranya mengeras
“Aku tak percaya, kau orang gila yang sedang mabuk!” sanggahku tegas
“Aku bukan penipu dan bukan orang gila atau mabuk. Aku malaikat!”
“Cobalah terangkan padaku wahai malaikat tua; kapan dan di mana Tuhan di makamkan? Dan bagaimana Tuhan bisa mati?” aku mengalah pada orang gila yang mabuk
(semoga aku tak ikutan gila serta mabuk pula)

Mulailah ia bercerita,
“Aku baru saja berjalan-jalan menyusuri kota,
Aku lihat orang-orang beribadah di mal-mal,
Aku lihat orang-orang rukuk di lantai dansa,
Aku lihat orang-orang sujud pada harta,
Aku lihat orang-orang menghamba pada manusia,
Aku lihat mereka telah mengganti kitab suci dengan televisi,
Aku pun mendengar mereka mengaji dengan ayat-ayat yang tak pernah aku sampaikan pada rasul yang agung 14 abad yang lalu,
Dan mereka mulai berzikir untuk mengagungkan materi,
Tuhan telah mati….. Tuhan telah mati….”

Malam semakin gelap dan angin mulai menembus jaket
Di atas trotoar Samudera,
Dua pasang muda-mudi lalu di depan kami,
Berjalan berdekapan erat seolah ingin melawan dingin

Pak tua bermata hijau itu melanjutkan ceritanya,
Suara serak kini makin mengeras,
“Mereka usung keranda yang berisi Tuhan dalam balutan kealiman saat menjalankan larangan Tuhan,
Kau tahu,
Aku mendengar sekelompok orang bicarakan BT di teras masjid usai sholat magrib!
Mereka tengah mengusung-Nya….. mereka adalah pengusung keranda itu!”
Kalimat terakhir dilafaskannya dengan lengkingan keras

“Lalu mereka mengubur Tuhan dalam diskusi yang berisi Tuhan itu ada di mana-mana!
Hingga tak ada lagi yang Esa
Engkau tahu wahai anak muda,
Dia adalah satu, tak beranak dan tidak diperanakkan,
Tak ada yang menyerupainnya!”
Aku diam seribu bahasa,
Tuhan, semoga Engkau masih hidup dalam diri rapuh ku…

September 2011, Rifki

Puisi Rifki Ferdiansyah
RIFKI FERDIANSYAH, 28 tahun yang lalu lahir di Semarang; tepatnya pada hari keempat di bulan Mei 1983. Menamatkan kuliah Sastra Inggris di Universitas Bung Hatta pada tahun 2005. Tertarik dengan dunia jurnalistik dan sempat merasakan dunia jurnlis. Namun, profesi guru bahasa Inggris di salah satu Sekolah Menengah Pertama kota Padang menjadi aktivitas sehari-harinya kini. 

Romansa Kota Tua Padang - West Sumatra

Tour de Singkarak series by singkarak-traveler.blogspot.com


SI PADANG, OH SI PADANG (RAPSODI ZAMAN)

                        Engku muda!
Jalan ini, jalan tidak bertapak engku! Sebelah utara di rel lokomotif tua pingiran muara
engku berjalan sendiri menjemput senyum gadis cina, yang diapit hasap hio di kelenteng
karcis kelas II seharga ƒ 0,5 (gulden) masih engku pegang sebab pertunjukanToneel tidak jadi
Orang-orang membiarkan mukanya terendap dalam lenguh si kuda bendi di pasar Kuranji
dan nama engku tercatat dalam roman itu “Si pelerai kasih” itulah kabar angin yang tersiar

Malam minggu selepas petang bergerimis di awal  Desember 1921, kita berjanji di sini,
Aku mengenakan kebaya, sedang engku mengenakan peci dan sarung tenun dari Samarinda
Di tangan masih hangat berita di Pertja Barat, koran sore yang remuk aku lipat.  Engku datang
Seperti gerak lokomotif mengangkut karang putih berdenyut-denyut darah dalam jantungku
Emmahaven nan bacin, dermaga Gaung sisa-sisa kantuk tersemat di ceruk matamu engku.
Dan kita berlalu, memikir negeri, mengukir asma azan di dada masing-masing.

Uda
Jalan ini, jalan tidak bertapak uda! Masing ingatkah kita bersepeda melintasi gardu Muara
Malam minggu selepas petang bergerimis di awal  Desember 1973, kita berjanji di sini,
Aku mengenakan rok dan blues sedang uda, levis cut bray, kemeja ketat dan kriting kribo
Ke Gunung Padang kita, ke Gunung Padang, menjenguk rindu pada ujung-ujung buih lautan
Kita kunyah gulali, kita kuliti kacang abuih, dan lidah kita berdecak-decak,kencan pertama
Denyut kota ini semakin lenguh di antara lagu-lagu gamad,mengalir seperti terlerai dari zaman
                                   
                                    Sayang!          
Malam minggu selepas petang bergerimis di awal Desember 2005, kita berjanji di sini
Di jalan damar, sore yang ribut terkantuk, bau amis laut berganti dengan seduh kopi pahit,
Mesin-mesin ketik tua kejar-mengejar dari ruang redaksi, Haluan mencatat “Generasi Sesak”
Lamat  lagu gamat, suara azan semakin jauh digilas lalu lintas sibuk, etalase, bilboar, rapun
Dan angin lasi terantuk, di losmen, gincu tebal dan dentang ombak puruih teramat nyinyir,
dan kita berlalu  seperti lagi sedih, si padang oh si padang, lalu orang-orang berteriak “Tsunami”
                       
Honey!
Jalan ini jalan tidak bertapak sayang! Masih ingat? kita larut dalam desak payung-payung Taplau
gue mengenakan tank top biru muda, levis potong paha, sedang elo  keluar ala “Mohawk”modis
dan kita seperti sesak mengukir warna di biru di kanal-kanal teluk tubuhku, di gelinjang betisku
jalan-jalan seperti pentas catwalk, hinggar dentum musik dari angkot, surau-surau  lengang, seperti riak yang berteriak-teriak si pongah.  Beragam aroma nafas, amis keringat akhirnya berderam labuh di sudut-sudut kota, sumpah serapah dan seseorang menunjuk ke arahku “uwia-uwia mintak gatah” dan kita berlalu tak peduli seperti lagi sedih si padang oh si padang,  kian kisut, semakin lagis terantuk di tikam zaman.


Puisi Kurnia Hadinata
KURNIA HADINATA, dilahirkan 17 Desember 1981 silam di kota budaya Batusangkar, Sumatera Barat. Merupakan alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2004. Tahun 2011 menamatkan pendidikan S2-nya di almamater yang sama. Sampai sekarang aktif menulis dan mengisi kolom, puisi, cerpen, artikel dan feature dan foto di beberapa media lokal Sumbar dan nasional, diantaranya Harian Singgalang, Harian Padang Ekspres, HarianHaluan, Harian Mimbar Minang. Majalah Sastra Horison (Jakarta), MajalahKartini (Jakarta). Secara pribadi pernah menerbitkan buku kumpulan puisi yang bertajuk Aubade Pesta Hujan (2003). Musim Hujan yang Menggugurkan Daun-daun Puisi (2007), Lelaki yang Kawin dengan Orang Bunian  (Kumpulan Cerpen, 2007) dan sebuah novelBianglala di Bukit Barisan (2008). Pernah menjadi wartawan lepas di beberapa media massa diantaranya Harian Haluan Padang (2004-2005) menjadi Koresponden LKBN ANTARA (2005-2006). Berbagai penghargaan pernah diraihnya diantaranya nominator Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional pada Festival Kreativitas Pemuda 2006 kerjasama Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementrian Pemuda dan Olah Raga RI denganCreative Writing Institute (CWI). Juara 3 Lomba menulis Essai  Pendidikan Antar Wartawan Se- Kabupaten Pasaman tahun 2009. Peringkat 3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Guru Se-Sumbar Tahun 2009. Nominator 20 Cerpen Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja Rhoto Award 2009. PeringkatRunner-Up Lomba Menulis Cerpen (LMCP) tingkat Nasional antar guru SMA/SMK tahun 2009. Tahun 2010 bukunya “Ayo Membuat Film Cerita Pendek” berhasil meraih Juara 1 Sayembara Menulis Buku Pusat Perbukuan Nasional Kemendiknas.  Saat ini sambil mengajar di SMP Negeri 2 Panti Pasaman Sumatera Barat juga terus mengelola rumah baca dan sanggar menulis bagi anak miskin dan pemuda putus sekolah,  di Kabupaten Pasaman. Sekarang penulis menetap di Jl. Pasar Inpres Air Terbit Panti No 31, Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman, Sumbar.